Berbagi Kasih di Rumah Kasih Sayang
Hari minggu (25/12/2011), saya serta beberapa teman dari Kotareyog.com berkesempatan mengunjungi sebuah desa di daerah Jambon Ponorogo. Desa itu bernama Krebet, namun lebih dikenal dengan sebutan “kampung idiot.”
Saya yakin sebagian besar dari Anda pernah mendengar keberadaan kampung ini, karena memang akhir-akhir ini media gencar memberitakannya.
Kampung idiot bukan sekedar cerita atau ilustrasi belaka, memang begitulah adanya. Hanya kata-kata tersebutlah (kampung idiot) yang sanggup mewakili. Karena di desa Krebet terdapat 300an orang idiot. 30 diantara mereka berusia produktif sedang lainnya lansia. Suatu jumlah yang bisa dibilang besar dalam sebuah komunitas desa.
Ditengarai kemiskinan menjadi akar penyebab keterbelakangan mereka. Asupan gizi terutama iodium tidak mereka dapatkan. Hal ini sudah terjadi sejak beberapa generasi terdahulu. Hal ini bisa jadi benar, karena jika anda blusukan kerumah penderita idiot (ODK) maka anda akan terhenyak, jangankan mendapati rumah layak huni, rumah sederhanapun sulit anda jumpai, karena memang rumah mereka sangat tidak layak ditinggali oleh manusia.

Tujuan awal kami dolan ke kampung ini adalah untuk bertemu dengan para relawan Rumah Kasih Sayang (RKS). RKS adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh Kementerian Sosial dengan tujuan mengadakan penyuluhan, bimbingan maupun pendampingan kepada mereka, penderita ODK.
Pengabdian RKS yang dibentuk bulan juli lalu itu harus di beri apresiasi. Bagaimana tidak, 25 relawan harus melayani 400 lebih ODK. Bisa kita bayangkan betapa repotnya memberikan bimbingan kepada orang-orang idiot. Meski demikian mereka sangat sabar membimbing setiap hari.
Saya sempat berbincang dengan mas Arif, salah satu relawan disana, dia menyatakan siapa lagi orang yang mau peduli dengan mereka (ODK) kalau bukan kita. “Rumah Kasih Sayang dibuat untuk melayani mereka semampu kami hingga mereka meninggal nantinya. Sembuh itu suatu hal yang mustahil, paling tidak kami membuat mereka lebih diterima dan merasakan kebahagiaan bersama.” Begitu dia menjelaskan.
Ah, saya benar-benar merasa malu didepan mereka. Selama ini saya kurang ada kepedulian dengan saudara-saudara disana.. Niat tulus ikhlas para relawan mengingatkan kita betapa berbagi kasih itu suatu hal yang indah..
Ini saja postingan saya kali ini. Lebih detail postingan saya tentang Rumah Kasih Sayang silahkan ditengok disini. Bagi kawan yang ingin mengadakan kunjungan ke “Kampung Idiot” di Ponorogo silahkan hubungi saya, insyallah saya siap mendampingi Anda. Terimakasih.





senengnya bisa berbagi
Salut pada para relawan yang bekerja tanpa pamrih mendampingi saudara kita yang kurang beruntung
Sukses untuk Mas Azax
backlink q endi iki…..
iya mas..
benar pak.
salam sukses juga pak
keren mas… semoga niat tulus yang diberikan kelak mendapatkan balasan setimpal…. sukses mas
semoga mereka yang dg ikhlas membantu mendapat pahala dari Alloh swt…
Mereka yg mengalami keterbatasan sudah seharusnya mendapat perhatian, sukses untuk mas Azaxs
semoga pinggiran Ponorogo mendapatkan perhatian pemerintah kak
salam kenal kak nama saya Sugeng
good job and good luck
slamat bagi para penggerak rumah kasih sayang.
sudah beberapa kali kampung ini diekspose media TV, mas azaxs. sungguh mengharukan. semoga kehadiran rumah kasih sayang bisa membuat mereka merasa lebih nyaman dan dimanusiakan.
saya malah belum tahu soal kampung itu soalnya saya jarang nonton tv, tapi sungguh, saya salut dengan para relawan itu.
Kenapa kampung itu diberi nama yang jelek seolah-olah menggambarkan kelas penduduk di sana? Walau jelas penduduknya idiot, tapi melabelkan mereka berterusan sedemikian akan memberikan rasa rendah diri berterusan kepada mereka. Sekadar pendapat, mungkin saya yang tersilap mentafsirkannya.
Oh ya, salam perkenalan daripada penulis blognya Malaysia.
ndang update to, arep komentar iki lo
Sangat mantap dan terus berkarya kawan
apa jadinya dunia tanpa kasih sayang..
kasih sayang sangat diperlukan mas, andaikan semua orang didunia ini memiliki sifat kasih sayang ini, pasti tidak akan ada manusia yang merugikan saudaranya sendiri.. Dengan begitu, dunia akan penuh dengan kebahagiaan,,
salam..
mbayar mas bend;D
mereka saudara kita….
hidup diantara keramaian kota ponorogo… dan gejolak multidimensi yang tak merecruit mereka,,,seandaniya kita bisa jadi jembatan