Happy New Year - Memaknai Tahun Baru

TIDAK terasa tahun baru 1429 H telah tiba. Pergantian waktu setahun menunjukan bahwa umur kita bertambah satu, tetapi kesempatan hidup kita di dunia berkurang pula satu tahun. Waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang takkan pernah kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan semangat, namun kadang membuat orang terlena dan tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Pemisalan di atas mengingatkan kita agar selalu menghormati dan menghargai dengan melakukan berbagai aktivitas bermanfaat. Setiap kesempatan yang ditawarkan sang waktu, kita gunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia untuk bekal kehidupan di akhirat kelak. Jika tidak, sang waktu akan menarik kesempatan tersebut dan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Peribahasa Arab mengatakan, “Waktu laksana pedang, jika tidak mampu memanfaatkan waktu, maka kamu akan terhunus olehnya”.

Pergantian tahun kali ini begitu berdekatandengan pergantian tahun baru masehi. Memasuki tahun baru Hijriah, orang mestinya merenungi juga peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya penamaan tahun qomariah yaitu hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Bukan pergantian tahun baru atau kronologisnya yang dibicarakan atau diperingati, melainkan harus ditekankan pada hakikat hijrah itu sendiri berikut pengaruhnya pada kehidupan umat Islam.

Beberapa makna hijrah di antaranya. Pertama, meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. “Dan berbuat dosa tinggalkanlah.” (Q.S: 74;5). Sebuah hadis Nabi menyebutkan, orang yang hijrah itu ialah orang yang meninggalkan larangan Allah. Kedua, menjauhi hal-hal yang tidak baik dan merusak termasuk pergaulan yang jelak. Tidak mempedulikan ocehan dan hinaan dari mereka yang membenci Islam, harus berusaha menghindari benturan-benturan sosial tanpa melahirkan diri dan mengucilkan diri dari komunitas soial, namun tetap melakukan dakwah dengan aktif dan persuasif.

Ketiga, berpindah tempat. Yang ketiga ini berimplikasi putus hubungan secara politis. Hijrah macam ini menurut Muhammad Rasyid Ridla, dalam tafsirnya Al-Manar (5:361), dapat dilakukan secara individual atau massal. Beliau menuturkan bahwa sebab hijrah ini ada tiga, dua bersifat individual dan yang satu bersifat sosial politik. Pertama, karena tidak ada kebebasan dalam melaksanakan ajaran agama. Kedua, karena di tempaatnya tidak ada pengajaran agama di tempat lain yang tidak terdapat ulama.

Ketiga, karena adanya tekanan politis dari penguasa zalim yang dilakukan secara massal. Hijrah inilah yang erat kaitannya dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. beserta para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Dari uaraian tadi dapat disimpulkan bahwa hakikat hijrah sebenarnya merupakan usaha perubahan (transformation) kualiatas hidup, baik yang bersifat mental, maupun moral sosial.

Apabila dilihat dari kajian sejarah, Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya melakukan hijrah bukan karena takut kezaliman kafir Quraisy Mekah sehingga dianggap sebagai pengungsian atau pengusiran. Hijrah merupakan perintah Allah SWT di samping strategi besar yanng dilakukan seorang pemimpin untuk membangun kekuatan baru yang tangguh membangun masyarkat yang memiliki kemuliaan dan keluhuran mental, spiritual, kultural, maupun ekonomi. Juga sebagai suatu stategi kebangkitan Islam.

Demi kebangkitan kembali dunia Islam masa kini, umat Islam dituntut agar dapat menemukan kembali hukum sebab akibat dalam manhaj haraki (baca, strategi kebangkitan) yang pernah diwujudkan Nabi dan para sahabatnya. Rangkaian suatu peristiwa dianalisis melalui multidisipliner sampai diketemukan sebab akibat yang memengaruhi kemudian digeneralisasi sehingga dapat diterpkan pada masa kini dan mendatang.

Dengan kajian sejarah, maka hijrah akan tetap memiliki makna dan pengaruh kuat di sepanjang zaman. Sehingga sejarah bukan catatan mati yang terkubur, melainkan berupa isyarat yang hidup dan terus menyinari dinamika dunia Islam, dengan kata lain, bukan hanya catatan sejarahnya yang dikaji tetapi falsafah kesejarahannya yang perlu diperdalam.

Adapun tahapan-tahapan hijrah Nabi yang perlu kita cermati secara garis besarnya pada tahap pertama Nabi membangun landasan-landasan utama bagi terbentuknya masyarakat baru. Tahapan-tahapan ini meliputi. Pertama, identifikasi dan investigasi (penyelidikan dan pancaran) pendukung dakwah. Mencari pembelaan di luar Kota Mekah, seperti di Thaif, Habsy, dan Yastrib.

Kedua, at-ta’sis (penentuan basis) memilih tempat hijrah dan memiliki komunitas baru yang kemudian dijadikan markas pergerakan dakwah Islam. Ketiga, membangun Masjid sebelum membangun yang lainnya. Ia berfungsi sebagai tempat ibadah, pendidikan pembinaan ruhani, silaturahmi, pusat pemerintahan dan menyususn kekuatan. Kekempat, integrasi yang dalam bahasa agama disebut mu’akhkhat (persaudaraan Islam) persaudaraan muhajirin dan anshar. Kelima, stabilisasi melalui perjanjian damai dengan kaum Yahudi.

Persaudaraan tidak terbatas pada kaum Muslimin saja melainkan hingag lintas agama, etnik, ras, latar belakang sosial, keturunan, dan lain sebagainya. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Alquran (1996):487) mencatat empat bentuk ukhuwah Islamiyah yaitu, ukhuwah ubudiyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah. Ukhuwah insaniyah, seluruh umat Islam bersaudara. Ukhuwah wathanyah dan nasabiyyah, persaudaran dalam keturunan dan kebangsaan. Ukhuwah fid-din al Islam persaudaraan sesama Muslim.

Pada tahap kedua Nabi dan para sahabatnya memelihara dan mempertahankan masyarakat baru yang sudah terbentuk dari berbagai makar, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Bila strategi ini dipakai bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis, maka dengan segera akan keluar dari berbagai kemelut yang sedang dialami.

Berbicara hijrah selalu dihubungkan dengan kebangkitan kembali Islam, karena hijrah Nabi Muhammad dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah merupakan babak awal kebangkitan Islam. Pada masa sekarang ini kebangkitan Islam sangat sering dibicarakan akan tetapi masih belum menjadi kenyataan, kadang-kadang rasa pesimis datang menggangu perasaan. Namun, rasa pesimis tidak membuat kita putus asa, bahkan menjadi motivasi yang kuat dan semakin penasaran untuk mewujudkan izzul Islam. Kita yakin bahwa perputaran sejarah akan terulang kembali manakala prasyaratnya terpenuhi.

Terdapat beberapa faktor menjadi indikasi bangkitnya dunia Islam, antara lain, pertama, adanya revival of faith yaitu kebangkitan moral spiritual secara terus menerus melalui tarbiyyah ruhaniyyah. Aspek rohani merupakan sebuah penentu sebuah perubahan. Kedua, revival of moral, kebangkitan moral. Nabi Muhammad berhasil mengubah orde masyarakat, karena beliau menekankan aspek moral. Sebuah bangsa akan tetap jaya, jika tetap memiliki moral, manakala moralnya lenyap maka lenyaplah bangsa itu. Ketiga, revival religious thought. Kebangkitan cara berpikir keagamaan, termasuk di dalamnya soal ijtihad politik. Keempat, revival of social economic power, bangkitnya kekuatan ekonomi umat.

Kebangkitan nilai-nilai Islami adalah merupakan proses yang sangat panjang perjuangan yang sangat mulia meski melelahkan. Kebangkitan dunia Islam masih menapaki jalan yang penuh duri dan sangat menegangkan, kita dituntut agar berusaha menentuk an prasyarat yang menjadi sebab kebangkitan. Kegagalan bukan merupakan akhir perjuangan, tetapi merupakan awal suatu kebangkitan kesungguhan dan ketakwaan yanng akan mempermudah jalan.***

Diadabtasi dari tulisan Era Baru Kebangkitan Islam
Oleh: Jamjam Ahmad Yusepa. Penulis aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bandung.

Random Posts

About the Author

azaxs has written 250 stories on this site.

I am just a student at Ponorogo. Learn blogging, learn to share with others. Interest on graphic design and wordpress themes, but as soon as this blog contains various topics that I am writing... :)

3 Comments on “Happy New Year - Memaknai Tahun Baru”

  • Shinta wrote on 10 January, 2008, 14:24

    Hayuuk…tukeran link yuuk…! Selamat tahun baru 1429 H.

    [Reply ]

  • nhina wrote on 18 March, 2008, 10:54

    aa’ ternyata jago nulis ya..
    a’ punya buku ke 2x gak ” ketika cinta bertasbih”
    kl bisa yg adobe reader aja..
    kl ada bagi dong a’
    munten..
    nhina

    @ af1 ni nhina siapa ya? nhina madiun nggeh?
    wah af1 bgt, “ketika cinta bertasbih 2″ blom punya kalo yang pertama sudah katam.. hehe ;) Bukane jago nulis, cuma blajar nulis.. susun comment-ipun n sering mampir nggeh ;)

    [Reply ]

Trackbacks

  1. Makna Tahun Baru Hijriah | Azaxs Dot Net

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2010 Azaxs Dot Net. All rights reserved.
Theme by Fitobochka and ComFi.com Phone Cards Company.