Bendera Setengah Tiang [untuk korban lapindo]
- Saturday, March 29, 2008, 4:04
- Catatanku, News, lepas
- 441 views
- 11 comments

“Dentum amarah belum juga reda, tangisan tidak lagi bersama air mata, habis sudah sumpah serapah yang harus diucapkan, yah inilah kondisi dan realita kehidupan kita” seorang kawan tiba-tiba bergumam begitu puitis dengan sajak yang penuh duka. Dengan tiada alur yang ingin diceritakan, tapi aku mampu menangkap uraiannya yang pelan tapi penuh makna. Kembali dia meneruskan perkataan, “Kemarin aku melihat berita di TV, penderitaan berkepanjangan saudara-saudara kita di Sidoarjo seakan tiada pengahabisan. Sedangkan di Senayan, wakil rakyat seakan tidak mau merasakan duka mereka. Jangankan merasakan, menengok saja mereka enggan. Bahkan dalam interpelasinya, kasus Lapindo dimasukkan dalam fenomena alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi juga menyatakan hal yang sama… ini berarti menguntungkan pihak Lapindo, sedangkan dana penanggulangan menjadi beban pemerintah untuk menyelesaikan, seperti halnya banjir dan bencana alam lainnya. Sedangkan masyarakat?” aku yakin kali ini dia tidak sekedar bertanya tapi mempertanyakan.
“Indonesia Raya buat mereka, ini juga tanah moyangnya. Kita disini bisa nyantai, bernyanyi dan berpesta diatas kedukaan mereka.” Kali ini nada kegeraman dilontarkan. “Ingatlah kawan, jika seandainya kita yang menjadi korban apa yang harus kita lakukan? Bendera merahputih setengah tiang pantas dikibarkan untuk mereka! bukankah mantan presiden yang sempat dibenci dan dicaci maki di negeri sendiri mendapatkan kibaran setengah tiang seminggu penuh, apakah diantara mereka tidak ada yang turut serta menjaga dan membela negara? Apakah nenek moyang mereka bukan orang indonesia? Dan apakah tiada darah perjuangan yang mengalir di nadi mereka? Apakah ini namanya keadilan dan kesamaan dalam negara kita? Apakah semua rumah harus tenggelam dan ambles dulu? bukankah terlalu banyak korban yang terkapar?” kali ini matanya berkaca-kaca dipenuhi linangan air mata.Akhirnya aku menimpali,” Sabar kawan, inilah namanya kehidupan. Perjuangan memang harus ditegakkan. Dengan sekedar wacana saja tidaklah cukup, realita yang terlebih penting. Kedukaan tidak hanya dirasakan warga Sidoarjo. Berjuta masyarakat ditempat lain juga merasakan, entah kedukaan yang sebenarnya atau kedukaan akan buta pendidikan. Mari kita jernihkan fikiran sejenak, buang segala kepenatan juga jauhkan fikiran dari kotoran dan sampah-sampah yang menjijikkan. Sekedar menghirup segarnya udara pagi, dengan celotehan burung yang menyegarkan hati. Kita teruskan diskusi disana, diberanda, sambil menikmati secangkir kopi.”
Tulisan Terkait
About the Author
11 Comments on “Bendera Setengah Tiang [untuk korban lapindo]”
Trackbacks
Write a Comment
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!







Pemerintah dan terutama pihak Lapindo seharusnya lebih peduli akan hal ini… Tapi, pemerintah juga banyak dikritik karena banyak hal sih (pemerintah juga pastinya pusing). Seharusnya, pemerintah membuat pihak Lapindo bertanggung jawab atas korban lapindo ini. Merekalah penyebabnya, mereka juga yang harus bertanggung jawab…
[Reply ]
Pemilik perusahaan yang membuat isak tangis tiada henti itu ternyata seorang menteri dan orang terkaya di negeri kaya yang penduduknya miskin ini.
[Reply ]
mungkin sebaiknya, seluruh korban lapindo melakukan barter, tukeran tempat tinggal gitu.
krn seringkali kita baru sadar kalau keadaan itu bener2 gak enak (lahir dan batin) saat kita merasaakannya sendiri
[Reply ]
Lapindo , sampai kapan ya akan terus seperti itu
saya hanya bisa berdoa semoga yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk korban Lapindo
Kesabaran adalah harga yang terindah untuk kebahagiaan sejati
percayalah
[Reply ]
aku sedih membaca posting ini…ternyata betapa kejamnya dunia…hikz…
[Reply ]
salam,
terimakasih atas tulisan anda, senang rasanya mendengar saudara sebangsa ternyata tidak semuanya mengacuhkan derita yang kami derita ini.
saya usul, selain bendera setengah tiang untuk penderitaan korban lapindo, juga untuk mengenang ketidak berdayaan pemerintah dan negara berhadapan dengan modal.
korbanlapindo
[Reply ]
saya dari sidoarjo lho…
[Reply ]
bagus tulisan mas
desa
[Reply ]
*prihatin melihat realita*
[Reply ]
Semoga dari keprihatinan yang ada menjadi kebangkitan yang sesungguhnya
[Reply ]