Jangan Main Instan!
- Sunday, April 13, 2008, 6:56
- Catatanku, Kontemplasi, News, lepas
- 426 views
- 30 comments
Postingan ini adalah tulisan penyeimbang dari postingan sebelumnya….
Secara resmi, Jumat ( 11/4/2008 ) kemarin pemerintah telah menghentikan pemblokiran Youtube, MySpace juga Multiply. Seperti kita ketahui, berkaitan dengan penayangan film fitna beberapa hari lalu pemerintah memblokir situs-situs tersebut.
Dalam jumpa pers di Gedung Depkominfo, Menkominfo meminta maaf jika pemblokiran YouTube secara total selama beberapa hari ini mengganggu para pengguna internet. Blocking situs, dianalogikan Menkominfo Mohammad Nuh seperti mengambil tumor dalam tubuh seseorang. Untuk itulah tubuh harus dianastesi (dibius) secara total. Analogi tersebut mirip dengan aksi pemblokiran total yang dilakukan pemerintah terhadap situs YouTube guna menghadang film ‘Fitna’.
“Tapi dengan semakin canggihnya teknologi, yang tadinya harus dibius total untuk mengambil tumornya, sekarang bisa dibius lokal saja,” paparnya.
Pemerintah, lanjut Nuh, sebenarnya tidak mau memblokir YouTube secara total, namun hanya mau mengeliminasi film ‘Fitna’ saja.. “Kami minta maaf jika dalam mengambil tumor tadi, ada pihak yang terganggu,” ujarnya lagi.
Jika kita mencermati kasus ini, sebenarnya pemerintah (Depkominfo) sendiri telah menyadari bahwa mereka tidak perlu melakukan pemblokiran secara total (bius total), walaupun hanya beberapa hari, karena bisa melakukan pembiusan lokal. Jelas budaya instan mempunyai andil besar disini, walau nyatanya manfaat kadang tidak sebanding dengan kerugiannya.
Menarik benang merah dari kasus ini, saya pribadi mengharapkan untuk kedepannya Depkominfo dan pemerintah pada umumnya mampu mengambil kebijakan yang tepat sebelum aplikasi lapangan. Mungkin YouTube ataupun Multiply merupakan hajat dan hasrat blogger serta netter, dan kerugian sebagian besar “hanya” bagi mereka. Namun jika keputusan itu berhubungan dengan hajat hidup banyak orang, import beras ataupun pencabutan subsidi BBM misalnya, pemerintah harus lebih jeli dan matang perhitungan karena sebenarnya rakyat bukanlah bahan percobaan yang bisa seenaknya dipermainkan. Untung kalo menguntungkan, tapi kalau merugikan? Bangsa ini sudah capek dengan berbagai macam eksperimen yang semakin hari semakin menyesakkan..
Bisa jadi, antrean minyak tanah yang setiap hari semakin panjang, gizi buruk yang semakin hari selalu bertambah korban, mereka yang menjadi kaum tuna wisma semakin banyak akibat penggusuran atas nama tata kota dsb, merupakan hasil kebijakan instan “analogi pembiusan total” yang salah sasaran.
Kita juga harus mengakui, kebijakan pemerintah tidak selalu merugikan. Sebagai contoh Depkominfo, harga komunikasi selluler di Indonesia sekarang lebih murah dan sesuai dengan ketentuan normal, setelah selama ini konsumen dibohongi dengan harga tarif selluler jauh diatas ambang wajar, ataupun keseriusan pemerintah memerangi pornografi di dunia maya, serta respon “luarbiasa” pemerintah menyikapi film Fitna yang menimbulkan gejolak di masyarakat luas khususnya Islam. Diluar pro dan kontra masyarakat luas, saya setuju dan mendukung langkah positif – menghasilkan nilai positif – pemerintah.
Namun begitu harus disadari pula bahwa sekali lagi rakyat bukanlah bahan percobaan suatu kebijakan dan memang sebagai tugas pemerintah adalah melindungi serta memberikan hak tiap warganya.








oo… ternyata itu sebabnya youtube di blokir…
[Reply ]
baru sadar aku, ternyata komen tadi komen pertama
[Reply ]
ini komen ke-3 kan???
[Reply ]
setuju banget mas , kalo kata nenek saya , sesuatu yang instan itu ngga baik , cepat dapat cepat lepasnya
tapi kalo mie instant gimana ya ? abis favorit saya nich
[Reply ]
ada lagi klo thiwul instan (nasi aking) gmn yaw………………..gleg………..krepek,krepek,,,,,,,,,,
[Reply ]
” semasih itu baik bagi rakyat kenapa tidak kita mendukungnya……”
[Reply ]
wah, kasus yang menarik, mas azaxs. fenomena kebijakan instan ini agaknya sudah menjadi budaya dalam tubuh birokrasi di indonesia. kebijakan pemblokiran youtube secara total menunjukkan kekhawatiran yang tidak berdasar tanpa mau repot2 utk mendeteksi situs2 tertentu yang suka mengumbar kemesuman. walhhasil, situs2 youtube yang bersih dan bermoral pun kena embat juga. kenapa bisa jadi begitu? yups, itu jalan pintas utk membunuh tikus di lumbung padi. utk membunuh seekor tikus mesti harus membakar lumbungnya. wah, paradigma yang salah kaprah dan parah!
[Reply ]
wah, image2 photoshopnya mantab, saya suka itu. apa boleh minta tolong saya dibuatkan header utk blog saya, mas? imagenya terserah, asalkan judul: “Catatan Sawali Tuhusetya” dan tagline: tentang dunia pendidikan, bahasa, dan sastra Indonesia tampak di header itu, hehehehe
ini kalau mas azaxs tidak keberatan loh, hehehehe
yups, makasih, salam kreatif!
[Reply ]
waduh, terima kasih banget, mas. ukuran headernya sekitar 1000 x 250 px. yups, jadi bener2 senang nih bakal punya header baru, hehehehe
saya ndak muji kok, mas, tapi memang image2 di blog ini bikin saya suka melihat dan menatapnya lama2, hehehehe … inspiratif banget.
[Reply ]
yang instan lebih punya taste ..hihi..
[Reply ]
ini seperti ingin menangkap tikus dengan cara membakar gudang.. hehe..
grasa-grusu ya pemerintah kita..
lam kenal.. ^^
[Reply ]
Huhu, memang ujung2nya instan ga (selalu) baik…
saya menyarankan media literasi buat masyarakat. Jadi, masyarakat harus diajari untuk sadar bahwa apa yg mereka akses selama ini ada yg baik dan buruk. Mereka harus memilih…
[Reply ]
Ealah sam azaxs…tak pikir tadi judulnya “Jangan Mie Instan !!”
hahaha
ya pokoknya kebijakan pemerintah itu harus bener2 memperhatikan rakyat lah, jangan asal2an semaunya sendiri…
sip…
[Reply ]
yang instan kebanyakan kurang baik hasilnya dik. wekekekkkkksss…….btw, mau juga dong dibikinin header (tapi gratis,hehehe….). tak tunggu (setengah memaksa nih…)
[Reply ]
yang instan lebih mudah dilakukan
jadi pilih yang instan ajah
[Reply ]
tumornya sudah dioperasi tho ???
*mungkin hanya diriku yg tdk terlalu ngaruh gara2 youtube di blokir*
[Reply ]
dik, utk detail headernya aku kirim ke email kamu aja ya? suwun….(ga ngrepoti kan, halah basa-basi banget sih).
[Reply ]
emang yang instan itu gak baik wlo manfaatnya ntar
jadi inget mie instan
[Reply ]
untunglah youtube bisa dibuka lagi.. donlot lagi dong. hehe :p
[Reply ]
kritikan cerdas
ayo semangat
perbaiki Indonesia semampu kita
[Reply ]
Semangat…
[Reply ]
kalow mie instant, masih diperbolehkan kan?
blom dilarang ma pemerentah?
[Reply ]
pemerintah itu selalu menegakkan solusi (menurut mereka), dengan tanpa adanya alternatif atas solusi tersebut…
salam satu jiwa!
[Reply ]
yuuuuuuuuuuuuuuk
[Reply ]
weiz.. emang budaya masyarakat indonesia yang mengakar : melakukan sesuatu dengan instan
yux, mulai kita rubah sama2. dari diri kita sendiri..
[Reply ]
assalamualaikum wr.wb
salam kenal saja buat amalia solicha
kalau bole saya minta emailnya.
wassalam
[Reply ]
Instan….??????
ya jelas g enak lah..
semua yang instan itu g da yang smpurna…
tapi kalo terpaksa ya udah g aapa….
[Reply ]
mas mas mas
diriku bikinin header juga dong…
hihihihihihi
biar mas azasx tambah repot
[Reply ]
Shhhiiip lah, ngga’ boleh ada hal yang instan ok !
supaya hasilnya juga maksimal
[Reply ]
masih ingat kamera polaroid? instant kan, langsung jadi di tempat…tapi hasilnya? banyak burem nya dan tidak tahan lama… tapi itu merupakan teknologi baru di masanya.
sekarang ada juga yang instant, kamera digital misalnya.kita bisa lihat hasilnya saat itu juga. Kalau jelek, bisa diulang. Dan ini merupakan hasil teknologi yang sudah diujicoba bertahun-tahun dengan dasar yang mantap.
so, kita pilih yang mana? Instant polaroid atau instantnya digicam? kalau mau digicam harus punya dasar yang kuat dulu (akhirnya kembali lagi ke pendidikan deh).
kalau saya boleh bilang sih istilah karbit pantas dipakai untuk pendidikan kita. Jadi matengnya dibuat-buat. instant dan karbit…. tidak alami….masalah memang.
[Reply ]