Renungan 10 th Reformasi
- Tuesday, May 13, 2008, 0:00
- Catatanku, Kontemplasi, News, lepas
- 528 views
- 29 comments
AWAN
(Sebuah puisi dari Alex)
aku terpekur di sudut dinding ini
aku tak habis pikir dengan nasib anak negeri ini
aku termenung melihat tingkah polah pejabat negeri ini
aku menangis mengenang perjuangan kawan-kawanku ini
masih segar dalam ingatan
ketika kami melawan tiran
dan ia berakhir tumbang
kini apa daya
perjuangan itu di anggap tidak ada
ah, biarlah saja Tuhan yang Maha tahu segalanya
dan memang kami tak mengharap apa-apa
karena perjuangan itu mulia
lahir dari hati dan jiwa-jiwa baja
namun kini aku menerawang menatap masa depan
masa depan bangsa yang semakin suram
suram karena di tutup awan
awan keangkuhan
awan kesombongan
awan yang menyeramkan
bukan awan yang memberi harapan
yang menandai akan hujan
sedih
pilu
miris
oh..balada negeriku
_________________________________________________________________
Hari ini, tanggal 13 Mei, tepat 10 tahun sudah reformasi dinegeri ini digulirkan. Entah saat itu kita berada dimana? yang jelas saat ini kita berada di tempat yang kita sadar akan keberadaannya. Yang kita tahu, api semangat yang bernama Reformasi itu hari ini telah meredup bahkan cenderung mati tertiup angin sepoi.. Ya menuju Indonesia baru itu sampai detik ini masih belum jelas arah dan tujuannya..
Rezim telah berganti, Orde lama, Orde baru dan Pasca Reformasi.. Tapi kenyataan tiada berfihak, impian-impian semu terus saja muncul tanpa adanya realita kepastian.
Padahal bayak sudah korban berguguran, sejak sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, airmata, keringat dan darah terus saja membasahi pertiwi. Cukup dan jangan kita tambah lagi kedukaan yang terlalu sering menyelimuti.. Mungkinkah Indonesia kita akan mengalami perubahan tanpa ada ceceran darah serta linangan air mata kembali?
Postingan dibawah ini adalah ajakan renungan kemanusiaan sedunia dalam Memperingati 10 tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998, yang diprakarsai oleh Peaceful Indonesia
*************************
“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.
Hampir seratus perempuan Indonesia etnis Tionghoa menderita kekerasan seksual dalam tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998 dan 1.339 warga Indonesia menderita kematian dini di beberapa supermarket yang dibakar gerakan massa. Penembakan yang menyebabkan kematian dini empat mahasiswa Universitas Trisakti mendahului tragedi Mei. Langit siang Jakarta menjadi gelap dan langit malam menjadi merah membara oleh kobaran asap dan pembakaran terhadap lebih dari 5.723 bangunan, 1948 kendaraan dan 516 fasilitas umum dengan total kerugian material, moral dan jiwa yang tak terhargai. Kekerasan serupa juga berlangsung di beberapa kota lain, seperti Surabaya, Palembang, Solo dan Lampung (Jusuf, Timbul, Gultom & Frishka, 2007).
Sepuluh tahun pasca-tragedi Mei 1998, kita mendengar ratapan keluarga korban, “Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapan pun saya tidak akan dapat melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tetapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?”
Kekerasan dan diskriminasi seperti Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 telah berlangsung di pertiwi Indonesia lebih dari tiga ratus tahun. Pada tahun 1740, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier membantai lebih dari 10.000 warga Nusantara di Batavia (Setiono, 2003).
Pada tanggal 31 Oktober 1918, sebagai akibat politik adu domba pemerintah kolonial Belanda, rumah-rumah dan toko-toko di kota Kudus dijarah dan dibakar habis oleh ribuan massa yang datang dari Mayong, Jepara, Pati, Demak dan daerah sekitarnya. Ratusan warga Nusantara menderita luka-luka dan enam belas meninggal dunia secara dini.
Ketika kalah perang dan menarik diri pada Perang Dunia II, tentara Belanda mendobrak, menjarah, dan menghancurkan banyak rumah, toko dan ratusan pabrik milik penduduk Indonesia. Sebagian rakyat Indonesia meniru perbuatan yang merendahkan kemanusiaan ini.
Jepang menggantikan Belanda sebagai penjajah Indonesia. Mereka juga menggelar kekerasan dan diskriminasi. Mereka memutus ikatan komunitas antara warga minoritas dan mayoritas Indonesia. Salah satu pembantaian terjadi pada akhir Oktober 1943, yang dikenal dengan “Pontianak Affair” dimana sebanyak 1.500 jiwa melayang, 854 di antaranya minoritas (Purdey, 2006).
Dengan mundurnya Jepang dari bumi Indonesia, Belanda ingin kembali lagi melalui tentara NICA (Nederlandsch Indie Civil Administration). Mereka berhasil mengadu domba rakyat Indonesia. Pada Mei 1946, sebanyak 635 orang, termasuk 136 perempuan dan anak-anak di daerah Tangerang dan sekitarnya menjadi korban pembunuhan. 1.268 rumah dibakar dan 236 juga mengalami kerusakan (Setiono, 2006a).
Kemudian berlangsung rangkaian pembantaian, penjarahan dan pembakaran atas rumah-rumah, tokoh-tokoh, pabrik-pabrik dan kendaraan-kendaraan di Bagan Siapi-Api, Kuningan, Majelengka, Indramayu, Pekalongan, tegal, Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Gombong, Lumajang, Jember, Malang, Lawang, Singosari, dan sebagainya.
Kekerasan dan diskriminasi belum usai pasca-kemerdekaan. Pada 10 Mei 1963, tindakan anarkis kembali terjadi. Akibat senggolan motor terhadap seorang mahasiswa, massa yang mengalami provokasi melakukan aksi penjarahan, perusakan, dan pembakaran di Bandung, dan kemudian meluas ke kota-kota sekitarnya, seperti Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.
Operasi militer terhadap mereka yang didakwa terlibat dalam G30S (Gerakan 30 September) yang dimulai pada tahun 1965 mengakibatkan jatuhnya korban jiwa laki-laki dan perempuan, minoritas dan mayoritas, Muslim dan non-Muslim dalam jumlah jutaan. Pada tahun 1967, dengan alasan menumpas Pasukan Gerilyawan Rakyat Serawak (PGRS) -kembali lagi tebukti betapa rapuhnya persaudaran kita sebagai rakyat Indonesia- kita berhasil diprovokasi sehingga terjadi aksi pembantaian di desa-desa pedalaman Kalimantan Barat yang mengakibatkan puluhan ribu orang mengungsi ke Singkawang dan Pontianak.
Pada tanggal 15 Januari 1974 protes yang kemudian dikenal dengan peristiwa Malari meluas menjadi aksi penjarahan, pembakaran dan serangan terhadap pertokoan dan penghuninya di Glodok, pasar Senen dan Blok M, Jakarta.
Kita masih mencatat saudara-saudari kita yang menjadi korban kekerasan, seperti dalam peristiwa Penembakan Misterius, Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, dan Penculikan Aktivis 1997-1998.
Menjelang penarikan Tentara nasional Indonesia (TNI) di Timor Leste pada akhir tahun 1999, berlangsung pembunuhan, pembakaran, pengrusakan dan penjarahan massal. Selama konflik dan pendudukan TNI, sebanyak 125.000 warga Timor Leste diperkirakan meninggal secara dini (Vickers, 2007).
Kekerasan dan diskriminasi baik dalam skala besar dan kecil, lokal dan nasional, besifat ras dan agama, politik dan non-politik seperti di atas masih mungkin berlangsung di masa depan jika kita, bangsa Indonesia, membiarkan para pemeluk berhala kekerasan dan diskriminasi menjalankan aksinya.
Kekerasan dan diskriminasi berlangsung karena individu atau kelompok orang yang memperebutkan dan mempertahankan kekuasanaan mereka secara rakus. Untuk tujuan politik ini, mereka mengadu domba warga Indonesia dengan mengeksploitasi sentimen suku, agama, ras, dan antarbudaya. Sebagai pencinta Indonesia baru tanpa kekerasan, kita harus menghentikan tindakan yang melanggar kemanusiaan ini.
Selain warna kehidupan yang penuh dengan kekerasan dan diskriminasi, kita tahu bahwa nenek moyang kita pernah hidup dengan rukun dengan bangsa lain yang menetap dan menjadi penduduk Nusantara. Kita merindukan dan menyerukan untuk hidup bersama secara damai demi kesatuan bangsa.
Hampir ribuan tahun silam penduduk Nusantara membuahkan karya pembuatan batu bata dan genting guna membangun rumah. Kehidupan bersama yang damai juga menelurkan penggunaan jarum untuk membuat pakaian dan menghasilkan cocok tanam dan pengelolaan padi secara lebih efisien untuk kelangsungan hidup (Adam, 2002).
Kita juga menjalin kerja sama dengan para pendatang dari luar untuk membangun galangan kapal perang dan merakit teknologi mesiu dan meriam secara bersama. Karena itulah, nenek moyong kita berhasil mempersatukan Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit.
Melalui kerja sama dengan Laksaman Cheng Ho dan para Wali Songo, Islam merasuki bumi Nusantara. Pada kesempatan itu pula, para wali, diantaranya Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ampel ((Bong Swi Hoo) dan Sunan Jati (Toh A Bo), mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak. Sultan pertama kerajaan Islam Demak, Raden Patah juga dikenal sebagai Jin Bun atau Cek Ko Po (Qurtuby, 2003).
Kerja sama yang harmonis untuk mengusir penjajah dari muka bumi Nusantara juga terlihat dalam Perang Jawa (1825-1830). Dalam perang ini, Tan Djin Sing secara aktif membantu Pangeran Diponegoro antara lain dengan memberikan sumbangan dana, kuda kesayangannya untuk Pangeran Diponegoro dan melatih para pemimpin pasukannya dengan ilmu bela diri (Setiono, 2006b).
Para pendahulu kita telah bekerja sama secara harmonis untuk menyatukan Indonesia modern di bawah Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Harian Sin Po untuk pertama kalinya menerbitkan lirik lagu Indonesia Raya dan mempropagandakan penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda”. Kwee Thiam Hong (Daud Budiman), Ong Khai Siang, Jong Liaw Thoan Hok, Thio Jin Kwee dan Muhammad Chai terlibat dalam Sumpah Pemuda (Wijayakusuma, 1999).
Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei dan Tan Eng Hoa juga terlibat aktif dalam merumuskan Undang-Undang Dasar Negara RI pada tahun 1945 (Suryadinata, 2005).
Perjuangan panjang Republik Indonesia hingga saat ini adalah hasil kerja sama yang harmonis dari para pendahulu kita. Oleh karena itu, siapa saja yang tinggal di Indonesia atau menjadi warga negara Indonesia berhak menerima perlakuan yang berperikemanusiaan, tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Pada peringatan 10 tahun tragedi kemanusiaan Mei 1998, kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan Mei 1998, dan mengadili para pelakunya.
Kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menindak secara hukum individu atau kelompok yang mengeksploitasi suku, agama, ras, dan antarbudaya untuk kekerasan dan diskriminasi terhadap target korbannya.
Kami mengundang semua warga Indonesia dan warga dunia yang peduli Indonesia untuk menciptakan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi
Tujuan Renungan Kemanusiaan Sedunia mempunyai tiga tujuan utama, yaitu:
Pertama, mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan Mei 1998, dan mengadili para pelakunya.
Kedua, mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menindak secara hukum individu atau kelompok yang mengeksploitasi suku, agama, ras, dan antarbudaya untuk kekerasan dan diskriminasi terhadap target korbannya.
Ketiga, mengundang semua warga Indonesia dan warga dunia yang peduli Indonesia untuk menciptakan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi.
________________________________________________________
Berkaitan dengan Reformasi buka blognya Pak Sawali dan Mas Iman Brotoseno
Salam damai dan perubahan!
Tulisan Terkait
About the Author
29 Comments on “Renungan 10 th Reformasi”
Trackbacks
Write a Comment
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!








Semoga negeri ini tidak lagi mengulang tragedi yang sama. Mari kita wujudkan “Indonesia Baru” yang lebih terhormat dan bermartabat, bebas dari kekerasan. Saya mendukung petisi itu yang diparakrsai oleh Peacefull Indonesia itu, Mas Azax.
Salam damai dan Perubahan!
[Reply ]
saya punya satu harapan, semoga kita bukan menjadi orang yang mendurhakai nenek moyang….
[Reply ]
kak azaxs ga ada ruang tamunya ya..?? kalo cuma mo mampir trus dimana?
[Reply ]
mudah-mudahan ga cuma jadi ritual tahunan
[Reply ]
melihat akan naiknya harga BBM yang tentunya berimbas pada naiknya harga barang kebutuhan pokok serta demo mahasiswa kemarin samapi hari ini yang terdapat pembakaran foto SBY JK, saya jadi khawatir, peristiwa ‘98 akan terulang lagi walau mungkin agak berbeda….
[Reply ]
Perjuangan masih panjang kawan
namun jangan putus dijalan
dan jangan putus asa
karena disana ada kejayaan menunggu kita
Bangkitlah !!!!
[Reply ]
set….panjang amat ya?
semogah kejadian tersebut gak terulang….
[Reply ]
sedihh yaa….
Tapi coba reffer ke naskahmu yg sebelumnya mudah2an kita jg gak terprovokasi sama berita yang muncul dari mulut ke mulut…. peace…
[Reply ]
Semoga Indonesia ke depan bisa lebih baik……….Peace…..:neutral:
[Reply ]
Bukan seprti sekarang dan bukan seperti dulu Pra reformasi…….(lalu seperti apa????? kita pkirkan bersama…………)
[Reply ]
saya cinta negeri ini
tapi kenapa yang ada selalu anarki
dalam diri saya menanti
kembalinya negeri gemah ripah loh jinawi
[Reply ]
rakyat bersatu
tak bisa dikalahkan
[Reply ]
ayo tetap beri semangat pada pemimpin2 kita. kalau bisa tawarkan solusi yang rill pada mereka agar masalah bangsa ini bisa diselesaikan dengan efisien.
yang mau perubahan ayo maju…!!!
[Reply ]
yuk kita sama2 bangun kembali negri ini..
walau dari 0 besa sekalipun
[Reply ]
Awan masih menggumpal legam dan hitam … tapi hujanpun tak kunjung turun untuk membuat awan kembali putih. Saya miris akan keadilan
[Reply ]
semoga saja, tapi potensinya cukup besar lho untuk terulang lagi…
sayangnya, saya hanyalah seorang anak SMA yang belum dapat berbuat banyak di tengah kacaunya negeri ini..
[Reply ]
me 2……………:((
[Reply ]
semoga awan suram yang menyelimuti masa depan bangsa indonesia ini segera berganti langit biru yang cerah..
menandakan cerahnya kelanjutan kehidupan bangsa ini
[Reply ]
hidup mahasiswa!!!
tumbangkan opini bahwa mahasiswa menggagalkan reformasi ini
masih banyak aksi yang mesti kita lakukan
*aksi gak anarkis lo*
[Reply ]
Selalu dan pasti
Madiun Affairs pasti alpa disebut oleh mereka yang mengaku berjuang
Entah karena alasan ideologis atau lupa
Entah karena korbanya “hanya” orang Islam
[Reply ]
Atau
entah karena pelakunya “cuma” orang komunis
[Reply ]
semoga Indonesia kelak akan menjadi negara yang aman, damai dan sejahtera jauh dari yang namanya kekerasan sebaliknya kelembutan heheh…
semoga Indonesia berubah ke arah yang lebih baik…
[Reply ]
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Setujuuu!?
Kudu atuh..
MERDHEKA..!! MERDHEKA..!!
*modus semangat Megakarti on*
[Reply ]
sudah mulai jaga jaga kalau sebentar lagi kejadian yang seperti ini lagi… duh GUSTI… moga moga tidak terjadi!
reformasi ya…
yu mari…
[Reply ]
mari sama-sama berdoa saja…..
[Reply ]
blog kiri ya, mas?
[Reply ]
hidup mahasiswa!!!
tetap kobarkan semangat revolusioner
[Reply ]
Hmmm saya tidak suka “kekerasan”…
Hmmm saya tidak suka kesewenang-wenangan
Hmmm saya juga tidak mau didzalimi…
Kenapa… kita tidak belajar jadi manusia yang utama… berbicara dan mendengar untuk menyelesaikan masalah???
[Reply ]