Hantu Puncak Datang Bulan | Erotis dan Murahan
- Saturday, February 6, 2010, 2:27
- Catatanku
- 1,106 views
- 10 comments
Akhir-akhir ini banyak bermunculan film yang mengundang kontroversi karena terlalu vulgar dalam cerita maupun mengusung erotisme adegan. sebut saja Suster Keramas yang dibintangi Rin Sakuragi, bahkan mendapatkan fatwa haram dari MUI.
Kini giliran film besutan rumah produksi K2K, Hantu Puncak Datang Bulan yang harus ditarik dari peredaran. Meskipun telah lulus sensor Lembaga Sensor Film, namun film yang dibintangi oleh Andi Soraya dan Trio Macan ini ditarik dari peredaran karena MUI resmi mencekal dan FPI mendemonya. Alasannya, film menampilkan adegan vulgar.
Film ini mengisahkan tentang rumah besar di jadikan tempat kos–kosan beberapa pemuda-pemudi indekos di rumah ini. Sejak itu pemuda-pemudi yang indekos digoda oleh hantu lelaki dan hantu perempuan tidak habis–habisnya. Pemilik rumahpun mendatangkan orang–orang pintar untuk mengusir hantu–hantu itu, tapi gagal.
Menurut pandangan saya pribadi, film ini adalah film murahan. Walaupun seni dan cerita mereka tonjolkan, tapi pada dasarnya adegan syur tetap menjadi alasan supaya film ini laku. Didalamnya terdapat adegan-adegan ranjang dan setengah telanjang Andi Soraya. Meski pihak produser dan Lembaga Sensor Film telah memangkas adegan sepanjang 78 meter, tetap saja aroma erotisme tidak bisa dipisahkan dari film ini.
Perlu di ingat bahwa bangsa ini sudah mulai bosan dengan film-film jenis ini. Sebut saja Tali Pocong Perawan, Air Terjun Pengantin dan lain sebagainya, rating film tersebut tidak sebagus film-film yang mempunyai nilai motivasi dan edukasi, seperti Laskar Pelangi, Garuda Didadaku, Ayat-Ayat Cinta ataupun Ketika Cinta Bertasbih.
Semua tergantung pada kita selaku konsumen dan pemirsa.
Tulisan Terkait
About the Author
10 Comments on “Hantu Puncak Datang Bulan | Erotis dan Murahan”
Write a Comment
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!






seneng nek murah mas, kan ngirit..
[Reply ]
sineas dan pecinta pilem endonesa ga enek sing cerdas deh pren….

bah Tali Bra Perawan, bah Jilbab Biru di Bawah Piramid, murah semua….
lha gimana mau dibilang mahal kalo idenya aja ndak perlu beli? jangankan beli, nyari aja ndak. tinggal lihat selera pasar, langsung bikin pilem.
tapi, apapun itu, beginilah Multikulturalisme Kita.
~ maaf nyepam, mumpung update.
[Reply ]
kalo dilihat dari sejarahnya, dari jaman baheula, film horor di endonesa selalau dan elalau dibumbui dengan adegan adegan panas dan jualan wajah cantik dari pada menjual sebuah misteri
[Reply ]
betul-betul… la terae seng panyu yo ngunu kwi ,lo kang, enek adegane ANU…. he he he
[Reply ]
betu mas, aku wis bosen filmnya ngunu-ngunu tok… gak ada yang lain ta selain yang hot..
[Reply ]
mirip juga seperti hiburan di televisi
klo ada acara televisi yang menarik minat penonton
stasiun televisi lain juga ikut-ikutan membuat acara serupa
[Reply ]
Saya suka yang murah soalnya lebih hemat duit. Wkakakakaka….
[Reply ]
lagi lagi film kayak gini, bikin kontrofersi aja !!!
[Reply ]
wuihhh, merusak moral bangsa
[Reply ]
ya gk gitu, mas. asal buat eksport aja dapet devisa ..pussssiiing ngagajih rakyat ge
[Reply ]